MAHRUS
Hari ini matahari menyongsong tinggi di kepalaku, membuat langkahku semakin sulit dan terasa berat. Sudah tiga bulan lamanya aku menetap dipondok pesantren di Surabaya, tepatnya di Ponpes Muhyiddin. Hari ini bulan mei tahun 2004, sebenarnya aku tidak pernah menginginkan sekolah disini, hanya saja kedua orang tuaku yang memaksa aku untuk menuruti keinginan mereka.
Hari pertama sekolah membuat ku merasa tidak “confidence”, hatiku semakin tak karuan saat langkah ini semakin dekat dengan gerbang sekolah.
“Maaahruuuss….!!!” Terdengar suara memanggil namaku, aku menoleh dengan berusaha berfikir siapakah dia?, langkah kakiku terhenti sebentar, dan aku hanya terdiam melihat orang itu semakin mendekatiku.
“Apakah ini yang dikatakan orang Jepara, hanya mampu terdiam dan melamun saja….?” Ejek orang itu sambil tersenyum sinis. Mendengar itu aku hanya terdiam dan tersipu malu. Tanpa memperdulikan ucapan orang itu, aku langsung pergi begitu saja.
Langkahku memang terasa berat disini, banyak yang menganggapku orang asing yang tak begitu penting. Aku menyadari bahwa aku memang orang baru disini, tapi tak mengapalah soal itu, bagiku itu hanya omong kosong belaka.
*****
Sudah cukup lama bagiku untuk lebih dekat dengan orang-orang disini. Mungkin belum lama, tapi setidaknya aku sudah mempunyai banyak teman disini. Meskipun begitu aku tetap merasa tidak nyaman disini, karena aku harus jauh dari kedua orang tuaku dan juga teman-temanku di Jepara.
Saat suara adzan berkumandang, aku bergegas mengambil air wudlu. Disaat itulah aku dapat mengadu pada Tuhanku tentang semua yang aku rasakan, dengan kekusukan aku berharap Tuhanku akan mengabulkan semua doaku.
Setelah selesai sholat aku tak langsung kembali ke Ponpes, aku ingin menghilangkan sedikit beban di benakku. Senda gurau membuat semua terasa begitu cepat berlalu.
Tak sengaja saat ku menoleh, ku melihat sesosok gadis berkerudung putih dengan keanggunannya. Dalam hatiku bertanya”Siapa gerangan dirinya?” seperti layaknya pria biasa, kamipun terhanyut akan pesona bidadari surga.
“Sebenarnya siapa dia?” tanyaku dengan berbisik pada Agus teman karibku.
“Dia anak baru, pindahan dari Jombang.” Jawab Agus dengan tersenyum riang.
“Katanya sih..dari pondok pesantren Tambak beras…!!!” Saut Zacky dengan PDnya.
“Aku harap dia sekelas denganku…!!?” Bisikku dalam hati, dengan tersenyum lebar.
“Apa yang kau fikirkan mahrus,? Sampai-sampai kau tersenyum seperti itu, jangan-jangan kau….hahaha….”ejek mereka padaku dengan tersenyum lebar.
“Apa? Aku tak memikirkan apa-apa, hanya saja…., sudahlah ini sudah hampir sore, sebaiknya kita kembali ke Ponpes sekarang.
“Anak muda zaman sekarang maunya aneh-aneh saja.” Gumanku dalam hati, sambil berbalik menuju Ponpes.
*****
Pagi ini bunga-bunga begitu ceria, matahari tersenyum lebar, menyambut datangnya kesunyian pagi. Aku harap hari ini akan menyenangkan, dan hari kemarin tak kan terulang kembali.
Aku terkejut saat ku melihat gadis yang kemarin ku lihat, sekarang duduk di bangku kelasku. Hatiku terasa berdebar kencang, aku tak kuasa gejolak jiwa ini yang semakin lama semakin menjadi. “Ya Tuhanku…perasaan apakah ini sebenarnya?” langkahku semakin berat, saat tatapnya tertuju padaku, semua terasa hilang memoriku saat ia melangkahkan kakinya ke arahku. “Ya Allah, dia datang, dia semakin dekat, apa yang harus aku katakan padanya?ya…dia semakin dekat lagi”
“Hai…!!” Sapanya dengan lembut dan senyum di bibir yang membuat ia terlihat semakin elok.
“Haiiiii….” Sapanya lagi dengan kesal, sambil menepuk pundakku, yang membuat lamunanku terhenti.
“Haa..ha..iii.. jugaa..” jawabku dengan perasaan tak karuan.
“Aku Khomsah, kamu siapa?” tanyanya dengan nada lembut. Aku semakin tak kuasa melihat tatapan matanya yang begitu indah.
“A..akuuu..Mahrus, katanya kau anak pindahan ya…? Pindahan dari mana?” tanyaku dengan gemetar dan sedikit bosa basi.
“Aku pindahan dari Ponpes Tambak beras, Jombang.” Kata Khomsah. Waktu bergulir dengan cepat, dia telah banyak bercerita tentang dirinya, tentang kehidupannya, bahkan keluarganya. Aku fikir ia orang yang baik hati dan berwibawa.
*****
Sekarang aku dan khomsah menjadi teman baik. Aku, Agus, Zacky, Khomsah dan teman-teman wanitanya. Kami sering belajar bersama, pulang bersama, bahkan sering ke kantin bersama.
Tapi semua berubah saat Khomsah jatuh hati pada seorang pria yang membuat hatiku semakin hancur. Dia Yusuf, seseorang yang sangat beruntung bisa mendapatkan hati Khomsah. Semua berubah semenjak Khomsah berhubungan dengan Yusuf, kita semakin jarang bertemu, bahkan khomsah tidak ada waktu untuk pertemanan kita. Sekarang Khomsah berubah, dia sering bolos sekolah. Aku khawatir dengan keadaannya sekarang. Pagi ini saja Khomsah tidak mengikuti pelajaran sama sekali. Aku semakin khawatir dengan dia, apa yang sebenarnya terjadi pada Khomsah.
“Kenapa pagi ini Khomsah tidak berangkat lagi?” tanya Agus mengawatirkan keadaannya. Ternyata tidak hanya aku yang mengkhawatirkan Khomsah, tapi teman-teman dekatnya juga.
“Mungkin ia ada di lantai tiga, biar kucari…” aku berfikir ia ada disana, karena terkadang kita sering mengunjungi tempat itu.
Aku melihat Khomsah disana, aku mencoba mendekatinya dan menanyakan keadaanya. Khomsah malah memelukku, seakan ia takut kehilanganku. Aku semakin bingung, apakah aku harus bahagia atau ikut menangis seperti Khomsah. Sebenarnya aku tak tega melihat Khomsah seperti ini, tapi dalam hatiku aku masih menyayanginya. Akhirnya aku putuskan mengatakan semua.
“Khomsah, aku tak pernah tau apa yang kau rasakan sekarang. Tapi aku juga tak bisa berbohong pada hatiku. Aku ingin selalu bisa menjagamu dan di sampingmu selalu.”
“Aku tak pernah bisa mengatakan perasaanku yang sesungguhnya, karena bagiku semua itu tak ada gunanya.” Jawab Khomsah dengan menghapus air matanya. Mendengar itu aku mencoba menyakinkannya bahwa seharusnya akulah yang ia pilih bukan Yusuf. Aku tahu Khomsah masih bersama Yusuf, tapi aku tetap berharap untuk tetap bisa menjaga ia selalu. Terlalu banyak kata yang aku ucapkan untuk membuat ia percaya. Dan akhirnya Khomsah mempercayaiku, hatiku bahagia dan aku berjanji akan selalu menjaganya.
*****
Setelah kejadian itu Khomsah memutuskan hubungannya dengan Yusuf. Karna hal itu juga Yusuf memusuhiku, tapi bagiku tidak masalah, asalkan aku tetap bisa bersama Khomsah.
Tepat tanggal 14 february 2005, aku resmi jadian dengan Khomsah. Hari ini merupakan hari yang sempurna bagiku, karna aku akan selalu menjaganya. Tapi kebahagiaan itu kembali terusik, baru dua hari aku jadian dengannya, aku termakan api cemburu. Khomsah terlalu sering bersama teman-temanku, bahkan ia jarang bersamaku. Karna hal itu juga membuat kepercayaanku hilang padanya. Tak tau setan apa yang meracuni pikiranku, sehingga membuat aku untuk melakukan hal bodoh, kuputuskan untuk menelpon Khomsah saja.
“Assalamu’alaikum…khomsah?”
“wa’alaikumsalam, Mahrus? Ada apa?” tanya Khomsah dengan sedikit ragu.
“Ya ini aku, aku ingin bertemu denganmu di sekolah besok, aku harap kau bisa?”
“Memang ada apa?” tanya Khomsah dengan sedikit cemas.
“Tak apa!! Aku tunggu kau di kelas besok. Ya sudah, assalamu’alaikum.”
“wa’alaikumsalam.” Jawab Khomsah sambil menutup telponnya. Aku tak mengerti dengan apa yang aku lakukan, apakah benar aku harus membuktikan ketulusan cinta Khomsah padaku.
*****
Pagi-pagi buta aku sudah menunggu Khomsah di kelas, tak lama kemudian ia datang menemuiku.
“Sebenarnya apa yang ingin kau katakan padaku?” tanya Khomsah dengan wajah khawatir. Aku langsung mengeluarkan silet dari tasku, ia terkejut melihat itu.
“Aku ingin kau menyayatku dengan ini Khomsah? Untuk membuktikan ketulusanmu.” kataku padanya. Tanpa ragu Khomsah malah menggenggam erat silet dari tanganku. Aku sangat terkejut melihat, bagaimana bisa ia melakukan hal itu. Darah terus menetes dari tangannya, aku semakin khawatir terjadi sesuatu padanya. Aku langsung menarik tangannya, menjilati semua darah yang menetes dari tangan Khomsah. Aku tak tahu apa yang aku lakukan saat ini, aku hanya takut kehilangan dia. Khomsah terus menangis dan aku semakin bersalah , kenapa aku tidak mempercayai cintanya. Aku langsung mengambil plester dan mengobati luka yang dialami gleh Khomsah. Ya Allah, betapa bodohnya aku tak mempercayai gadis seperti dia, aku menyesal telah berbuat hal bodoh seperti ini.
“Aku minta maaf Khomsah, aku tak mempercayai ketulusanmu.” Khomsah masih meneteskan air matanya. Tapi aku mencoba membuat ia merasa nyaman dengan semua hal yang telah aku perbuat. Aku terus mengatakan maaf untuk kejadian ini dan aku akan terus mempercayai ketulusan Khomsah.
Setelah kejadian itu, aku semakin memperhatikan Khomsah. Aku semakin ingin dekat dengan dirinya, karena hal itu pula kehidupanku berubah, entah apa yang terjadi. Aku semakin brutal, aku sering mengajak Khomsah pergi dari sekolah bahkan bolos pelajaran hanya untuk tetap bersama Khomsah. Satu minggu kemudian salah seorang guru mengetahui kejadian itu. Aku harus memutuskan satu hal yang sulit, memilih antara Khomsah atau sekolah. Jelas aku tidak bisa meninggalkan Khpomsah begitu saja, tapi aku juga tidak bisa meninggalkan sekolahku, karna itu akan membuat kedua orang tuaku kecewa. Dengan pertimbangan yang sangat berat aku memutuskan untuk meninggalkan Khomsah.
Setelah kejadian itu, orang-orang yang dahulu menganggap Khomsah wanita yang kurang baik di mata mereka, sekarang berubah dan menganggap Khomsah adalah wanita yang luar biasa, karena ia sanggup meninggalkanku hanya untuk kebaikanku. Meskipun begitu, aku sebenarnya masih menginginkannya.
*****
Tak tau apa sebabnya akhirnya aku dan Khomsah kembali bersama dan kejadian seperti dahulupun terulang, aku kembali sering bolos sekolah dan untuk kali ini aku tidak bisa meninggalkan Khomsah untuk yang kedua kalinya. Tapi apa jadinya, karna keegoisanku sendiri aku harus kehilngan semua.
Pihak sekolah kembali memintaku untuk meninggalkan Khomsah, dan kali ini mereka tidak segan-segan memanggil kedua orangtuaku. Dari Jepara kedua orangtuaku datang. Aku sudah menebak apa yang akan dilakukan pihak sekolah, dan ternyata benar aku harus keluar dari sekolah. Aku pikir setelah aku dikeluarkan dari sekolah, aku tetap bisa bersama Khomsah. Tapi tidak, kedua orangtuaku memintaku kembali ke Jepara dan meninggalkan semuanya.
Karna kesalahanku sendiri, sekarang aku harus keluar dari sekolah dan aku tetap kehilangan Khomsah. Aku tahu Khomsah juga tidak pernah menginginkan kepergianku, tapi ini semua demi kebaikan kita berdua. Khomsah sering menyalahkan hal ini padaku, tapi semua sudah terlanjur terjadi. Kita harus berpisah Khomsah, aku berharap kau bisa mendapatkan orang yang jauh lebih baik dari aku. Cintaku berakhir sampai disini, ku tinggalkan semua di Surabaya, dan aku akan mengukir kenbali kisahku di Jepara.
THE END
0 komentar:
Posting Komentar