Rabu, 14 Juli 2010

Puisi

Dalam Sujud Terakhirku

Dalam sujud terakhirku Ya Allah...
kuteriakkan Asma-Mu sekeras-kerasnya
agar runtuh dinding kesombongan dalam hatiku

Dalam sujud terakhirku Ya Rabbi...
ku menangis sejadi-jadinya
biar kering mata ini
namun basah ladang hati yang gersang

Dalam sujud terakhirku Ya Rahman...
kulihat semua dosa yang membayangiku
kelam mencengkram jiwa yang lusuh

Dalam sujud terakhirku Ya Rahim...
biarkan aku patah dalam cahayaMu
biarkan kumusnahkan titik-titik kemunafikanku
agar ku kembali dalam pelukan hidayahMu

Dalam sujud terakhirku
biarkan aku hirup nafasku sekali lagi
hanya untuk menyebut namaMu dan kekasihMu tercinta

Selasa, 04 Mei 2010

Resensi Buku


Oleh : Inayatus Sholikhah

Judul buku          : Memutus lingkaran setan kemiskinan
Nama pengarang : Maswan, Drs.
Nama penerbit    : Karsa manunggal Indonesia
Tempat terbit      : Jl. Raya Jepara Bangsri Km 09 Mlonggo Jepara Jateng
Tahun terbit        : 20 mei 2008
Tebal buku         : 40 Halaman
Harga buku        : Rp 5.000,-

Maswan, lahir di Jepara, 21 april 1960. Tempat kelahiran di desa Sekuro kecamatan Mlonggo kabupaten Jepara. Beliau adalah sosok yang penuh dengan semangat dalam menjalani hidup, penuh dengan Abisius dan Optimisme dalam menggapai keinginanya. Beliau adalah sosok yang pintar, mandiri, ulet dan tekun. Untuk meraih sebuah kesuksesan, Beliau harus banyak berusaha, beliau memanfaatkan ketrampilan seni ukir dan seni dekorasi tulis menulis huruf yang ditekuninya sejak kecil untuk dapat menyelesaikan kuliahnya,. Selain dua ketrampilan di atas, Beliau juga sering menulis Berita dan Artikel di beberapa media. Terdorong oleh percikan ide spontan, karena melihat realitas kehidupan anak-anak sekolah menengah tingkat atas ( SMTA ), baik dari madrasah Aliyah ( MA ) dan sekolah menengah atas ( SMA ) yang seharusnya tidak berhenti sekolah, ada pintu lolos untuk melanjutkan ke perguruan tinggi ( PT ), atau lulusan sekolah menengah kejuruan ( SMK ) yang belum siap pakai bekerja, namun banyak yang kandas, tidak dapat melanjutkan. Banyak lulusan SMA,MA dan SMK yang prestasinya cukup baik, justru tidak melanjutkan ke perguruan tinggi ( PT ), lantaran orang tuanya tidak mampu ( miskin ). Realitas yang dapat kita lihat, yang dapat kuliyah di perguruan tinggi adalah mereka yang ekonomi orang tuanya mapan atau dapat di katakan anak dari orang kaya. Maka di sela-sela keprihatinan ini, buku ini muncul dengan label judul, Memutus lingkaran setan kemiskinan, kiat sukses kuliyah sambil bekerja.

Kepedulian dan keprihatinan perlu kita miliki, jika kita menengok kanan kiri tentang masalah hidup. Kenyataan hidup yang kita lihat, kita rasakan dan kita lakukan ini, Seolah-olah ada diskriminasi hak-hak kehidupan, bahwa perguruan tinggi ( PT ) hanyalah milik orang-orang kaya saja. Sementara orang-orang miskin hanya dapat menggigit jari dan sebagai penonton bagaimana indah dan megahnya sebagai kampus perguruan tinggi. Padahal mereka juga mempunyai hak hidup sebagai penghuni kampus tersebu. Mereka hanya menjadi penonton dari luar arena kampus, lantaran kemiskinan. Mereka yang miskin itu sebenarya, tidak terlalu bodoh untuk duduk di bangkau perguruan tinggi, namun karena biaya, mereka akhirnya tersingkir dari kehidupan kampus, yang konon sebagai “kawah cendra di muko” keilmuan bagi generasi muda.

Buku ini di tulis, ada tujuan baik, setidaknya, sebagai bacaan orang-orang miskin yang terlantar tersebut dapat termonivasi berjuang untuk hidup berwiraswasta, kemudian hasilnya dapat di gunakan untuk masuk ke perguruan tinggi seperti yang di cita-citakan, sehingga tidak menjadi seseorang yang selalu terbelakang.

Buku ini apa boleh di baca oleh orang kaya? Jawabanya,boleh!. Jika ada orang kaya yang membaca buku ini, atau konglomerat serta pnguasa pemerintah, akan menjadi sebuah pembelajaran. Bahkan mungkin ada sebagian orang kaya, konglomerat dan penguasa pernah menjalani hidup miskin, lantaran etos kerja dan semangat hidupnya yang kuat, sehingga berakhir dengan sukses. Jika demikian, buku ini sebagai memori, betapa susahnya hidup miskin itu. Orang kaya atau pemerintah, justru dengan membaca buku ini, diharapkan juga ikut berfikir positif dan mendukung generasi muda yang mempunyai semangat berwiraswasta sambil kuliyah dengan cara menyuntuk dana sebagai modal melangkah. Dengan ikut membantu mereka yang miskin, pertanda masalah kebodohan dan keterbelakangan, yang konon bersumber dari kemiskinan ini akan teratasi dengan mudah, kalau hal ini tidak mendapat penanganan serius, maka selogan yang kaya makin pandai, yang miskin makin bodoh, akan terus berlanjut sepanjang zaman.

Tidak banyak dan mungkin jarang sekali di temuka buku yang membahas tentang masalah-masalah seperti ini, yang sebenarnya sangat penting bagi kehidupan dan kualitas seorang individu, Apalagi dengan adanya tuntutan zaman, yang semakin maju, sehingga menuntut kita untuk menjadi seorang individu yang berkualitas, dan mampu untuk bersaing dalam kehidupan. Buku ini adalah buku yang tepat bagi kita untuk memberikan arahan-arahan pada diri kita agar bisa memutus lingkaran setan kemiskinan yang membuat kita tidak mendapatkan hak-hak kita untuk memperoleh pendidikan yang lebih tinggi, jika kita tidak mampu untuk memutus lingkaran kemiskinan dalam diri kita, maka kemungkinan 99% yang terjadi adalah kita akan tersingkir dari kehidupan yang berkualitas, karena ketatnya persaingan di Era Globalisasi ini. Untuk itu kita harus memikirkan pendidikan untuk diri kita, karena itu sangat berpengaruh pada perkembangan hidup kita .

Buku ini mempunyai sesuatu yang menarik untuk kita baca, seperti memberikan ucapan BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM untuk memulai berwiraswasta. Memberikan arahan untuk kita tentang bagaimana cara berwiraswasta dengan baik sambil berkuliah agar dapat seimbang. Buku ini juga memberikan dorongan untuk kita agar selalu optimis dalam berusaha, membuat kita percaya diri, dan menyakinkan kita bahwa meskipun kita dari keluarga yang pas bahkan kurang atau bisa di katakan “miskin”, kita juga bisa menjadi seperti orang-orang yang berlimpahan harta “kaya” dalam memperoleh pendidikan dan kehidupan yang lebih baik dan layak, serta masa depan yang gemilang.

Jika di bandingkan dengan buku-buku yang lain, buku ini lebih unggul dalam menyampaikan masalah dan lebih mudah untuk kita pahami. Buku yang di kemas dalam bentuk yang mini ini mempunyai banyak pengetahuan untuk kita pelajari, buku ini juga cukup lengkap dan sangat bagus bagi para pelajar yang ingin meneruskan ke perguruan tinggi.

Menurut saya buku ini mempunyai kekuatan pada penyajian isinya yang sangat rinci dalam memberikan pengertian atau arahan untuk para pembaca.

Dan saya tidak menemukan kelemahan pada buku ini, buku ini cukup berkualitas, terjangkau dan cocok untuk generasi muda di Era modern ini.

Penting bagi anak, penting bagi siswa-mahasiswa dan penting bagi generasi muda bangsa untuk membangun dirinya masing-masing secara mandiri dengan cara belajar ilmu pengetahuan dan keterampilan yang di harapkan dapat di gunakan sebagai pegangan hidup pada masa yang akan datang agar tidak miskin, bodoh dan terbelakang.

Penting bagi orang tua yang untuk mempersiapkan dan memperhatikan pendidikan anak-anaknya, agar dapat memperoleh masa depan yang lebih baik. Penting bagi guru untuk mendidik murid-muridnya agar dapat memperoleh bekal ilmu untuk mencapai sebuah cita-cita, penting juga bagi masyarakat untuk mengarahkan generasi penerusnya agar menjadi manusia yang berketerampilan. Penting bagi pemerintah untuk mengatasi kemiskinan, kebodohan dan keterbelakangan yang di alami rakyat-bangsanya. Agar tidak tertinggal dengan negara-negara maju lain.

Keuntungan yang dapat kita ambil dari buku ini adalah bahwa kita tahu orang miskin juga bisa kuliyah di perguruan tinggi sehingga memperoleh masa depan yang cerah, dengan arahan-arahan dan cara-cara yang telah di tulis dalam buku ini, untuk itu penting bagi pelajar yang ingin berkuliyah tetapi terhambat pada biaya untuk membaca buku ini, insya Allah melalui buku ini kita bisa memperoleh jalan untuk itu.

Cerpen

TANGISMU TANGISKU
Oleh : AN


Langit malam akan selamanya terpejam, walau seribu bintang kedipkan keindahan. Dalam anganku saat menatap langit yang nampak terpejam tanpa rembulan, tertegur saat sebuah pertanyaan tiba-tiba terlintas dalam pikiranku. Apakah hatiku akan selamanya seperti malam ini, terpejam tanpa sinar rembulan. Aku lepas pandanganku dari malam yang nampak kelam, ku lanjutkan langkahku kembali sambil ku acuhkan pertanyaan yang sempat menghinggapi pikiranku karena tubuhku terasa lelah setelah seharian beraktifitas di sekolah. Sesampainya dirumah aku coba untuk mulai belajar, namun tak sampai membuka buku rasa malas mulai menghinngapiku, aku cukupkan pikiranku dari pelajaran esok hari, sambil meletakkan tas dimeja aku menuju ke tempat ragaku melepas kelelahan.

Mata belum seutuhnya berpijar, namun kupaksakan langkah ragaku mengambil air kesucian. Aku sujudkan raga ini kepada Tuhanku diatas sajadah biruku yang mulai nampak usang. Tak menunggu mentari melebarkan sinarnya, ku coba mengawali hari.

 “Hai, udah ngerjain tugas sosiologi ?” sapa temanku saat aku baru melangkahkan kakiku kedalam kelas. Aku yang semalam tidak belajar baru ingat jika ada tugas sosiologi. Tanpa bosa-basi aku langsung mengambil buku sosiologi. Tak peduli meja dan bangku masih berbalut dengan debu akupun mengerjakan tugas. Namun tak sampai 10 huruf aku menggerakkan bulpoinku sirine tanda masuk berbunyi dan waktunya berdo’a,  akupun pasrah jika nanti akan mendapatkan hukuman. Saat Do’a aku merasa was-was jika nantinya aku akan mendapatkan hukuman, namun aku beruntung ternyata guru sosiologi tidak mengajar.

Seperti biasanya, tiap kali guru tidak hadir maka gerombolan siswa akan mengisi tiap bangku. Semua nampak asyik ngobrol tanpa arah dan pola. Aku yang tak begitu suka berbicara hanya bisa menjadi penonton dan sesekali berbicara dengan teman sebangkuku.

Saat aku merasa bosan, tiba-tiba pertanyaan yang selalu menghinggapiku terlintas kembali dalam benakku.

“Apakah hatiku akan selalu sepi tanpa cahaya kasih yang menemani”. Namun aku kembali menutup kembali pertanyaan itu.

Waktu istirahat pertama kurang 15 menit lagi, aku mengangkat kepalaku dari atas meja dan menuju meja teman akrabku. Namanya Rani, ia adalah salah satu sahabat yang selalu dapat mengertiku. Saat aku dan Rani mencoba untuk saling bertanya aku terbawa dalam suasana yang belum pernah aku rasakan sebelumnya. Aku menatap matanya seperti ada cahaya yang selama ini aku nantikan. Dalam hati selalu terbayang keindahan tutur katanya yang membuat jiwa ini terasa tenang. Namun hati ini tak ingin berharap banyak karena “rasa bukan pertanda”. Memang dalam beberapa hari ini aku dan Rani selalu bersama, saat ada tugas ataupun saat waktu jam kosong. Aku mengubur dalam-dalam rasa ini, tak ingin persabatan hancur hanya karena rasa yang sesaat. Mentari telah membelah hari dengan sinarnya, bayangan telah berada diufuk timur. Jarum jam yang pendek telah menunjuk angka 1, pertanda waktu pulang sekolah. Seperti biasa saat pulang sekolah aku tak bergegas untuk pulang, entah karena apa akupun tak tahu.

“Nggak pulang ?”Tanya salah satu temanku.

“Nanti saja, kalau pulang jam segini dirumah ngapain.”Jawabku dengan nada bercanda.

Hari ini cahaya hati datang menghampiri, seseorang telah membuat hati ini seperti hidup kembali walau hanya sebatas mimpi. Adik kelasku telah membuat setengah hati mati walau tak seutuhnya. Hati ini terasa bangun dari tidur panjang, kini sang malam telah menemukan rembulan. Nampak indah bagiku walau ia hanya nampak cuek kepadaku. Tak kuasa aku menatap matanya karena wajahnya hanya tertunduk padaku. Dalam hatiku terbayang kata “inikah rasa yang akan membuat hidupku berubah.”Dalam inangan hatiku selalu terbayang keindahan rasa yang baru setengah mekar.

 Hujan tiba-tiba menetes membasahi rerumputan yang nampak kering, namun belum usai hujan berhenti atau mengajak cahaya hati untuk pulang. Namanya sulis dan aku bisa memanggilnya lilis, dengan motorku yang mulai renta aku antarkan ia pulang.

 “Kak, apa sih yang membuat kakak mau mengantarku pulang? Panggilnya dari arah belakang.

“Ya, Cuma mau nganterin kamu aja, memangnya kamu malu ya aku antar ?” Tanyaku balik.

“Enggak kok, aku cuma penasaran tiba-tiba kakak kok mau mengantarkan aku pulang, kita juga kan baru kenal.”

Pertanyaan itu tidakku jawab, karena aku kaget ada lubang di tengah jalan, setelah pertanyaan itu aku dan lilis terdiam tanpa sepatah kata yang terucap.

Ki’ik, suara rem motorku yang ampasnya telah habis. Lilispun turun dari motorku sambil meminta aku untuk mampir sejenak. Ingin hati untuk mampir namun aku ada janji dengan temanku. Akhirnya aku pulang dengan rasa yang belum pernah aku rasakan, senyumnya cukup untuk bekal rinduku. Seperti biasa tiap malam aku rutin menyentuh buku pelajaran esok, namun tak pernah aku belajar jika tidak ada PR.

Kabar hubunganku denganya memang aku rahasiakan kepada teman-temanku, karena aku tak ingin ada orang lain yang mencampuri urusanku. Namun sepintar-pintar orang menyembunyikan bangkai pasti tercium juga. Entah darimana berita yang beredar tiba-tiba teman-teman akrabku mengetahui hubungan kami. Namun aku sekali lagi tidak memperdulikannya lagi.

Waktu berjalan beriringan, sikap lilis yang tertutup padaku membuat aku sulit mengertinyaa, tiap aku bertemu dengannya ia nampak menghindar dariku. Namun aku tak akan memperdulikan karena rasa dalam hati tak akan mati.

Di sekolah aku sulit sekali bertemu dengannya, rasa rindu yang tak terhapuskan membuat hati ini ingin menemuinya. Malam menjadi waktu yang aku miliki. Aku menemuinya dan bicara banyak padanya. Ia juga menceritakan semua tentang masa lalunya. Walau bertolak belakang dariku namun hati ini yakin ia terbaik bagiku.

“lis, aku ada satu permintaan bagimu dan mungkin permintaan ini sulit untuk engkau penuhi.” Pertanyaanku yang muncul tiba-tiba..

“ Memangnya apa yang kakak pinta dari aku?”tanya Lilis penasaran.

“Aku ingin melihatmu memakai jilbab dirumah”

Tiba-tiba suasana hening, namun aku mendengar sebuah jawaban yang membuat hatiku tersenyum. Perjalanan waktu menghantar hati ini untuk selalu menunggu. Namun keinginanku sulis memakai jilbab di luar sekolah belum terbalas. Mungkin hingga kapan aku tak akan memaksanya. Waktu berlalu begitu cepat, aku merasa hubungan ku aemakin jauh darinya menyempatkan waktu menemuinya. Namun petir menyambar hati yang seutuhnya berdiri, ada sebuah kata yang membut rasa ini lenyap. Namun hati ini tetap tegar walau terasa mati jiwa ini.

Aku coba untuk tetap sabar, tak pernah terbesit rasa untuk membencinya.Namun bagai rerumputan kering yang tersulut api, hati ini terasa membara saat hati ini mencoba menghibur rindu padanya, ia selalu menghindar.Tiap kali aku ingin menatapnya, tetapi ia selalu menutupinya.Tak pernah mendapatkan jawaban karena jarak dan waktu memisahkan.

“Bagaimana kabarnya Lilis dengan kekasih lamanya?” Tanyaku pada teman lilis.

“Kekasihnya yang mana …?ooh dengan ….., tapi sepertinya Lilis enggak balikan ama pacar lamanya.”

Aku mendapat penjelasan tentang Lilis, walau aku tak seutuhnya percaya. Rasa ini tak pernah sirna walaupun sebuah kata menghancurkannya. Perlahan-lahan aku ingin melupakannya, namun berat hati menjalaninya.Tak pernah lagi aku menatap kedua matanya, karena setiap aku ingin melihatnya ia selalu menghindar.Tangis hati kerinduan ini, karena kerinduan terbalas oleh sikapnya. Kini di depan pagar gedung aku menatapnya, saat ia berangkat sekolah atu kapanpun aku berjumpa dengannya..

Dalam hatiku berharap Lilis akan kembali sebelum mata hatiku terpejam untuknya selamanya.


Dalam cerpen ini memang tidak seutuhnya menjelaskan seutuhnya perasaan q pada rani namun lebih banyak kepada sulis. Hal ini karena aku tak ingin menghancurkan cinta yang dimiliki rani. Namun dalam hati selalu terbayang keindahan yang belum pernah aku rasakan. Perasaanku pada rani hanya aku pendam namun aku terlalu nista untuk menyatakannya.--

Cerpen

MAHRUS

Hari ini matahari menyongsong tinggi di kepalaku, membuat langkahku semakin sulit dan terasa berat. Sudah tiga bulan lamanya aku menetap dipondok pesantren di Surabaya, tepatnya di Ponpes Muhyiddin. Hari ini bulan mei tahun 2004, sebenarnya aku tidak pernah menginginkan sekolah disini, hanya saja kedua orang tuaku yang memaksa aku untuk menuruti keinginan mereka.
Hari pertama sekolah membuat ku merasa tidak “confidence”, hatiku semakin tak karuan saat langkah ini semakin dekat dengan gerbang sekolah.
“Maaahruuuss….!!!” Terdengar suara memanggil namaku, aku menoleh dengan berusaha berfikir siapakah dia?, langkah kakiku terhenti sebentar, dan aku hanya terdiam melihat orang itu semakin mendekatiku.
“Apakah ini yang dikatakan orang Jepara, hanya mampu terdiam dan melamun saja….?” Ejek orang itu sambil tersenyum sinis. Mendengar itu aku hanya terdiam dan tersipu malu. Tanpa memperdulikan ucapan orang itu, aku langsung pergi begitu saja.
Langkahku memang terasa berat disini, banyak yang menganggapku orang asing yang tak begitu penting. Aku menyadari bahwa aku memang orang baru disini, tapi tak mengapalah soal itu, bagiku itu hanya omong kosong belaka.

*****
Sudah cukup lama bagiku untuk lebih dekat dengan orang-orang disini. Mungkin belum lama, tapi setidaknya aku sudah mempunyai banyak teman disini. Meskipun begitu aku tetap merasa tidak nyaman disini, karena aku harus jauh dari kedua orang tuaku dan juga teman-temanku di Jepara.
Saat suara adzan berkumandang, aku bergegas mengambil air wudlu. Disaat itulah aku dapat mengadu pada Tuhanku tentang semua yang aku rasakan, dengan kekusukan aku berharap Tuhanku akan mengabulkan semua doaku.
Setelah selesai sholat aku tak langsung kembali ke Ponpes, aku ingin menghilangkan sedikit beban di benakku. Senda gurau membuat semua terasa begitu cepat berlalu.
Tak sengaja saat ku menoleh, ku melihat sesosok gadis berkerudung putih dengan keanggunannya. Dalam hatiku bertanya”Siapa gerangan dirinya?” seperti layaknya pria biasa, kamipun terhanyut akan pesona bidadari surga.
“Sebenarnya siapa dia?” tanyaku dengan berbisik pada Agus teman karibku.
“Dia anak baru, pindahan dari Jombang.” Jawab Agus dengan tersenyum riang.
“Katanya sih..dari pondok pesantren Tambak beras…!!!” Saut Zacky dengan PDnya.
“Aku harap dia sekelas denganku…!!?” Bisikku dalam hati, dengan tersenyum lebar.
“Apa yang kau fikirkan mahrus,? Sampai-sampai kau tersenyum seperti itu, jangan-jangan kau….hahaha….”ejek mereka padaku dengan tersenyum lebar.
“Apa? Aku tak memikirkan apa-apa, hanya saja…., sudahlah ini sudah hampir sore, sebaiknya kita kembali ke Ponpes sekarang.
“Anak muda zaman sekarang maunya aneh-aneh saja.” Gumanku dalam hati, sambil berbalik menuju Ponpes.

*****
Pagi ini bunga-bunga begitu ceria, matahari tersenyum lebar, menyambut datangnya kesunyian pagi. Aku harap hari ini akan menyenangkan, dan hari kemarin tak kan terulang kembali.
Aku terkejut saat ku melihat gadis yang kemarin ku lihat, sekarang duduk di bangku kelasku. Hatiku terasa berdebar kencang, aku tak kuasa gejolak jiwa ini yang semakin lama semakin menjadi. “Ya Tuhanku…perasaan apakah ini sebenarnya?” langkahku semakin berat, saat tatapnya tertuju padaku, semua terasa hilang memoriku saat ia melangkahkan kakinya ke arahku. “Ya Allah, dia datang, dia semakin dekat, apa yang harus aku katakan padanya?ya…dia semakin dekat lagi”
“Hai…!!” Sapanya dengan lembut dan senyum di bibir yang membuat ia terlihat semakin elok.
“Haiiiii….” Sapanya lagi dengan kesal, sambil menepuk pundakku, yang membuat lamunanku terhenti.
“Haa..ha..iii.. jugaa..” jawabku dengan perasaan tak karuan.
“Aku Khomsah, kamu siapa?” tanyanya dengan nada lembut. Aku semakin tak kuasa melihat tatapan matanya yang begitu indah.
“A..akuuu..Mahrus, katanya kau anak pindahan ya…? Pindahan dari mana?” tanyaku dengan gemetar dan sedikit bosa basi.
“Aku pindahan dari Ponpes Tambak beras, Jombang.” Kata Khomsah. Waktu bergulir dengan cepat, dia telah banyak bercerita tentang dirinya, tentang kehidupannya, bahkan keluarganya. Aku fikir ia orang yang baik hati dan berwibawa.

*****
Sekarang aku dan khomsah menjadi teman baik. Aku, Agus, Zacky, Khomsah dan teman-teman wanitanya. Kami sering belajar bersama, pulang bersama, bahkan sering ke kantin bersama.
Tapi semua berubah saat Khomsah jatuh hati pada seorang pria yang membuat hatiku semakin hancur. Dia Yusuf, seseorang yang sangat beruntung bisa mendapatkan hati Khomsah. Semua berubah semenjak Khomsah berhubungan dengan Yusuf, kita semakin jarang bertemu, bahkan khomsah tidak ada waktu untuk pertemanan kita. Sekarang Khomsah berubah, dia sering bolos sekolah. Aku khawatir dengan keadaannya sekarang. Pagi ini saja Khomsah tidak mengikuti pelajaran sama sekali. Aku semakin khawatir dengan dia, apa yang sebenarnya terjadi pada Khomsah.
“Kenapa pagi ini Khomsah tidak berangkat lagi?” tanya Agus mengawatirkan keadaannya. Ternyata tidak hanya aku yang mengkhawatirkan Khomsah, tapi teman-teman dekatnya juga.
“Mungkin ia ada di lantai tiga, biar kucari…” aku berfikir ia ada disana, karena terkadang kita sering mengunjungi tempat itu.
Aku melihat Khomsah disana, aku mencoba mendekatinya dan menanyakan keadaanya. Khomsah malah memelukku, seakan ia takut kehilanganku. Aku semakin bingung, apakah aku harus bahagia atau ikut menangis seperti Khomsah. Sebenarnya aku tak tega melihat Khomsah seperti ini, tapi dalam hatiku aku masih menyayanginya. Akhirnya aku putuskan mengatakan semua.
“Khomsah, aku tak pernah tau apa yang kau rasakan sekarang. Tapi aku juga tak bisa berbohong pada hatiku. Aku ingin selalu bisa menjagamu dan di sampingmu selalu.”
“Aku tak pernah bisa mengatakan perasaanku yang sesungguhnya, karena bagiku semua itu tak ada gunanya.” Jawab Khomsah dengan menghapus air matanya. Mendengar itu aku mencoba menyakinkannya bahwa seharusnya akulah yang ia pilih bukan Yusuf. Aku tahu Khomsah masih bersama Yusuf, tapi aku tetap berharap untuk tetap bisa menjaga ia selalu. Terlalu banyak kata yang aku ucapkan untuk membuat ia percaya. Dan akhirnya Khomsah mempercayaiku, hatiku bahagia dan aku berjanji akan selalu menjaganya.

*****
Setelah kejadian itu Khomsah memutuskan hubungannya dengan Yusuf. Karna hal itu juga Yusuf memusuhiku, tapi bagiku tidak masalah, asalkan aku tetap bisa bersama Khomsah.
Tepat tanggal 14 february 2005, aku resmi jadian dengan Khomsah. Hari ini merupakan hari yang sempurna bagiku, karna aku akan selalu menjaganya. Tapi kebahagiaan itu kembali terusik, baru dua hari aku jadian dengannya, aku termakan api cemburu. Khomsah terlalu sering bersama teman-temanku, bahkan ia jarang bersamaku. Karna hal itu juga membuat kepercayaanku hilang padanya. Tak tau setan apa yang meracuni pikiranku, sehingga membuat aku untuk melakukan hal bodoh, kuputuskan untuk menelpon Khomsah saja.
“Assalamu’alaikum…khomsah?”
“wa’alaikumsalam, Mahrus? Ada apa?” tanya Khomsah dengan sedikit ragu.
“Ya ini aku, aku ingin bertemu denganmu di sekolah besok, aku harap kau bisa?”
“Memang ada apa?” tanya Khomsah dengan sedikit cemas.
“Tak apa!! Aku tunggu kau di kelas besok. Ya sudah, assalamu’alaikum.”
“wa’alaikumsalam.” Jawab Khomsah sambil menutup telponnya. Aku tak mengerti dengan apa yang aku lakukan, apakah benar aku harus membuktikan ketulusan cinta Khomsah padaku.

*****
Pagi-pagi buta aku sudah menunggu Khomsah di kelas, tak lama kemudian ia datang menemuiku.
“Sebenarnya apa yang ingin kau katakan padaku?” tanya Khomsah dengan wajah khawatir. Aku langsung mengeluarkan silet dari tasku, ia terkejut melihat itu.
“Aku ingin kau menyayatku dengan ini Khomsah? Untuk membuktikan ketulusanmu.” kataku padanya. Tanpa ragu Khomsah malah menggenggam erat silet dari tanganku. Aku sangat terkejut melihat, bagaimana bisa ia melakukan hal itu. Darah terus menetes dari tangannya, aku semakin khawatir terjadi sesuatu padanya. Aku langsung menarik tangannya, menjilati semua darah yang menetes dari tangan Khomsah. Aku tak tahu apa yang aku lakukan saat ini, aku hanya takut kehilangan dia. Khomsah terus menangis dan aku semakin bersalah , kenapa aku tidak mempercayai cintanya. Aku langsung mengambil plester dan mengobati luka yang dialami gleh Khomsah. Ya Allah, betapa bodohnya aku tak mempercayai gadis seperti dia, aku menyesal telah berbuat hal bodoh seperti ini.
“Aku minta maaf Khomsah, aku tak mempercayai ketulusanmu.” Khomsah masih meneteskan air matanya. Tapi aku mencoba membuat ia merasa nyaman dengan semua hal yang telah aku perbuat. Aku terus mengatakan maaf untuk kejadian ini dan aku akan terus mempercayai ketulusan Khomsah.
Setelah kejadian itu, aku semakin memperhatikan Khomsah. Aku semakin ingin dekat dengan dirinya, karena hal itu pula kehidupanku berubah, entah apa yang terjadi. Aku semakin brutal, aku sering mengajak Khomsah pergi dari sekolah bahkan bolos pelajaran hanya untuk tetap bersama Khomsah. Satu minggu kemudian salah seorang guru mengetahui kejadian itu. Aku harus memutuskan satu hal yang sulit, memilih antara Khomsah atau sekolah. Jelas aku tidak bisa meninggalkan Khpomsah begitu saja, tapi aku juga tidak bisa meninggalkan sekolahku, karna itu akan membuat kedua orang tuaku kecewa. Dengan pertimbangan yang sangat berat aku memutuskan untuk meninggalkan Khomsah.
Setelah kejadian itu, orang-orang yang dahulu menganggap Khomsah wanita yang kurang baik di mata mereka, sekarang berubah dan menganggap Khomsah adalah wanita yang luar biasa, karena ia sanggup meninggalkanku hanya untuk kebaikanku. Meskipun begitu, aku sebenarnya masih menginginkannya.

*****
Tak tau apa sebabnya akhirnya aku dan Khomsah kembali bersama dan kejadian seperti dahulupun terulang, aku kembali sering bolos sekolah dan untuk kali ini aku tidak bisa meninggalkan Khomsah untuk yang kedua kalinya. Tapi apa jadinya, karna keegoisanku sendiri aku harus kehilngan semua.
Pihak sekolah kembali memintaku untuk meninggalkan Khomsah, dan kali ini mereka tidak segan-segan memanggil kedua orangtuaku. Dari Jepara kedua orangtuaku datang. Aku sudah menebak apa yang akan dilakukan pihak sekolah, dan ternyata benar aku harus keluar dari sekolah. Aku pikir setelah aku dikeluarkan dari sekolah, aku tetap bisa bersama Khomsah. Tapi tidak, kedua orangtuaku memintaku kembali ke Jepara dan meninggalkan semuanya.
Karna kesalahanku sendiri, sekarang aku harus keluar dari sekolah dan aku tetap kehilangan Khomsah. Aku tahu Khomsah juga tidak pernah menginginkan kepergianku, tapi ini semua demi kebaikan kita berdua. Khomsah sering menyalahkan hal ini padaku, tapi semua sudah terlanjur terjadi. Kita harus berpisah Khomsah, aku berharap kau bisa mendapatkan orang yang jauh lebih baik dari aku. Cintaku berakhir sampai disini, ku tinggalkan semua di Surabaya, dan aku akan mengukir kenbali kisahku di Jepara.



THE END

Puisi


REVOLUSI LENYAP

Kereta melaju diluar rel
Pesawat terbang didalamnya samudera
Kapal membara ditengah lautan
Segala perubahan yang direncanakan tiada arah

Mulut banyak bicara tak ada perubahan
Segala janji berakhir seperti mimpi
Segala yang diharapkan seperti dedaunan kering
Bila tidak lagi dipohon tak ada guna bagi pohon

Revolusi negeri hambar
Tak ada rasa untuk dirasakan
Tak ada kenikmatan untuk dikecap
Revolusi regeriku kemanakah engkau ?

Revolusi yang dibicarakan
Tak ada yang dijalankan
Negeriku revolusi yang dinantikan
Menuju kehidupan tanpa berita kebohongan

Revolusi……..revolusi
Engkau dinantikan negeri ini
Negeri yang hanya bicarakanmu
Namun tak ada usaha wujudkanmu

Oleh : AN

Puisi


RAGA BERSAHAJA

Cermin berikan  penghormatan tiada tara
Berikan penghormatan tanpa awalan aba
Kepada raga yang mulai nampak renta
Atas apa yang telah ia rubah pada realita kehidupan

Kerumunan daun tertegun sebelum angin bertiup
Saat raga yang mulai renta berkarya
Berkarya untuk mengubah realita
Realita kota yang mulai tak tertata

Mengubah tanpa perintah
Berkarya tanpa banyak bicara
Raga bersahaja bagi yang memahami
Memahami dengan sepenuh hati

Puisi


KARYAKU JALANKU

Aku tuliskan karyaku
Ungkapkan isi hatiku
Ungkapkan pikiranku
Walau tiada kesempurnaan
Aku mencoba untuk sempurnakan

Karyaku jalanku
Jalan untuk ungkapkan pikiranku
Aku ungkapkan saat ketenanganku
Aku ungkapkan saat tiada masalah menghinggapiku

Karyaku jalanku
Segala kisah aku ungkapkan
Walau mungkin tiada guna
Bila engkau tak suka

Tutuplah karyaku
Lupakan apa yang pernah engkau enyamkan dari karyaku
Bukan karena benci
Bukan karena sedih

Karyaku jalanku
Bila engkau tak bisa pahami karyaku
Lupakan saja karyaku
Karena karyaku jalanku jalan pikiranku

Template by : kendhin x-template.blogspot.com modif by : nuri